MBAH VETERAN YANG KEREN
Beberapa waktu lalu aku dipertemukan dengan seorang kakek mantan tentara pada masa perjuangan kemerdekaan, gurat kegagahan dan keberaniannya masih sangat jelas terlihat. Beliau sangat ramah dan sopan. Awalnya beliau hanya senyum dan menyapa saja, tetapi tidak lama setelah itu, kami ngobrol dan berdiskusi dengan sangat akrab. Obrolan yang terlihat cukup ringan karena diselingi dengan tawa diantara kami, tapi menurutku hal yang kita obrolkan waktu itu adalah obrolan yang sangat bermakna, obrolah yang sangat berisi dan bernilai khususnya buatku.
Beliau sangat pintar, bukan hanya dibidang militer dan nasionalis, tetapi ilmu tentang nilai-nilai kehidupan dan juga ilmu agamanya sungguh dahsyat. Beliau banyak bercerita tentang perjuangan melawan penjajah, dan kronologi kecelakaan yang menimpa beliau hingga beliau harus mengikhlaskan pendengaran dan kaki sebelah kirinya diamputasi karena terkena bom dari penjajah. Membayangkan ceritanya saja sudah merinding, dan terbayang bagaimana perasaan beliau saat itu. Bukan hanya itu, beliau juga harus menelan kenyataan bahwa istri dan anaknya menjadi korban perang.
Tawakal dan ikhlas adalah pegangan hidup beliau, dan hikmah yang beliau ambil dari kejadian yang menimpa adalah bahwa beliau harus tetap bersyukur dan berterima kasih kepada Allah karena masih diberikan kesempatan untuk dapat memperbaiki hidup dan imannya.
Sepanjang kami berdiskusi, beliau sangat antusias dan memberikan feedback yang sangat bijaksana. Walaupun ada beberapa dari topik yang kami bahas mengenai hal-hal yang tidak sesuai dengan norma, atau hal yang jelas-jelas menyalahi agama, beliau menyingkapinya dengan sangat bijaksana dan tanpa ada kesan men-judgment sedikitpun. Cara beliau menyampaikan pendapat dan masukan, benar-benar tidak terkesan menggurui dan sok tau. Beliau sangat rendah hati dan menghormati pendapat orang lain, dari semua hal yang sudah kami bahas, dapat disimpulkan bahwa beliau adalah orang yang selalu berprasangka baik kepada semua orang.
Banyak hal yang dapat diambil dan dipelajari dari diskusi kami waktu itu. Aku merasa saat itu menemukan kembali sosok Aa’ (kakekku yang sudah wafat). Mereka berdua adalah laki-laki keren dan hebat. Aku juga ingat kembali pesan Aa’ yang selalu mengingatkan bahwa hidup harus seperti padi, semakin berisi semakin merunduk, jangan pernah menjadi sombong dengan semua nikmat yang diberikan baik nikmat ilmu, rizki, atau kelebihan lain. Dan jangan pernah merasa menjadi lebih baik disaat kita sudah mulai berjalan di jalan yang benar, lantas kita menganggap orang lain salah dan lebih rendah dari kita.
ALWAYS MISS U AA’
Beliau sangat pintar, bukan hanya dibidang militer dan nasionalis, tetapi ilmu tentang nilai-nilai kehidupan dan juga ilmu agamanya sungguh dahsyat. Beliau banyak bercerita tentang perjuangan melawan penjajah, dan kronologi kecelakaan yang menimpa beliau hingga beliau harus mengikhlaskan pendengaran dan kaki sebelah kirinya diamputasi karena terkena bom dari penjajah. Membayangkan ceritanya saja sudah merinding, dan terbayang bagaimana perasaan beliau saat itu. Bukan hanya itu, beliau juga harus menelan kenyataan bahwa istri dan anaknya menjadi korban perang.
Tawakal dan ikhlas adalah pegangan hidup beliau, dan hikmah yang beliau ambil dari kejadian yang menimpa adalah bahwa beliau harus tetap bersyukur dan berterima kasih kepada Allah karena masih diberikan kesempatan untuk dapat memperbaiki hidup dan imannya.
Sepanjang kami berdiskusi, beliau sangat antusias dan memberikan feedback yang sangat bijaksana. Walaupun ada beberapa dari topik yang kami bahas mengenai hal-hal yang tidak sesuai dengan norma, atau hal yang jelas-jelas menyalahi agama, beliau menyingkapinya dengan sangat bijaksana dan tanpa ada kesan men-judgment sedikitpun. Cara beliau menyampaikan pendapat dan masukan, benar-benar tidak terkesan menggurui dan sok tau. Beliau sangat rendah hati dan menghormati pendapat orang lain, dari semua hal yang sudah kami bahas, dapat disimpulkan bahwa beliau adalah orang yang selalu berprasangka baik kepada semua orang.
Banyak hal yang dapat diambil dan dipelajari dari diskusi kami waktu itu. Aku merasa saat itu menemukan kembali sosok Aa’ (kakekku yang sudah wafat). Mereka berdua adalah laki-laki keren dan hebat. Aku juga ingat kembali pesan Aa’ yang selalu mengingatkan bahwa hidup harus seperti padi, semakin berisi semakin merunduk, jangan pernah menjadi sombong dengan semua nikmat yang diberikan baik nikmat ilmu, rizki, atau kelebihan lain. Dan jangan pernah merasa menjadi lebih baik disaat kita sudah mulai berjalan di jalan yang benar, lantas kita menganggap orang lain salah dan lebih rendah dari kita.
ALWAYS MISS U AA’
foto by :ahdhan.deviantart.com
