Akhir tahun kemarin adalah akhir tahun yang penuh dengan perjuangan, perjuangan melawan keegoisan dan perjuangan mempertahankan diri agar tetap tegar menghadapi keadaan. Seminggu menjelang pergantian tahun, aku pulang kampung ke Tuban, dengan penuh semangat walaupun badan terasa letih setelah sehari sebelumnya berjuang menghandle beberapa anak dalam kegiatan MSC (Mental Spiritual Coaching) dengan karakteristik peserta yang sangat beragam cukup menguras tenaga dan fikiran, lepas dari itu semua, kegiatan MSC sangat seru sekali.
Saat perjalanan pulang, ayahku sempat menghubungiku lewat telfon menanyakan posisi sudah dimana? selain itu ayah juga mengabarkan bahwa ada sesuatu hal yang serius yang ingin dibicarakan, hal serius tersebut berkaitan dengan penyakit yang diderita oleh mama. Penyakit yang sempat membuat beliau stress, penyakit yang membuat mama sempat kehilangan berat badannya, dan juga penyakit yang selama 10 bulan terakhir ini menjadi fokus utama di keluargaku dalam mencari solusi terbaik untuk penyakit beliau. Hari itu ayah mengatakan bahwa beliau bersedia di operasi, kabar yang cukup membuat terkejut, terkejut karena bahagia, karena selama ini beliau selalu menolak jika diberikan pilihan untuk operasi, karena beliau memiliki trauma dengan operasi. Saat aku masih di bangku SMP, beliau pernah operasi hamil diluar kandungan dan sempat koma, hal tersebut membuat beliau trauma dengan rumah sakit, khususnya dengan ruang operasi.
Setelah ayah menjelaskan rencana operasi tersebut, aku langsung menyetujui dan langsung membuat agenda yang disesuaikan dengan jumlah hari liburku. Akhirnya diputuskan mama operasi tanggal 27 Desember 2012. Sehari sebelum operasi, beliau sudah harus opname di rumah sakit agar beliau bisa beradaptasi terlebih dahulu dengan kondisi rumah sakit. Semua anggota keluarga yang menunggu beliau di RS malam itu tidak dapat memejamkan mata, begitu juga dengan beliau. Waktu terasa berputar sangat lambat. Pagi saat dokter memeriksa beliau sebelum masuk ke ruang operasi, tensi darah beliau tinggi sampai 180. Hal tersebut terjadi karna beliau semalamana tidak tidur, dan pasti stress memikirkan apa yang akan dihadapi hari ini yaitu operasi, selain itu dokter juga mengabarkan bahwa bukan hanya jaringan kankernya saja yang harus diangkat, tetapi sebelah payudara mama harus diangkat. Sangat dapat dipahami jika saat itu beliau sangat stress, tetapi setelah ditenangkan oleh ayah dan keluarga, beliau merasa lebih tenang dan pasrah terhadap apapun yang akan terjadi. Proses operasi berjalan selam kurang lebih 2,5 jam, dan Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar. Saat di ruang recovery sangat tidak tega melihat beliau dalam keadaan tidak sadar akibat masih dalam pengaruh obat bius, memakai selang oksigen untuk bernafas, selang infus, dan selang pembuangan darah kotor yang berada di ujung jahitan bekas pembedahan.
Beberapa saat setelah mama sadar, beliau di pindah kembali ke ruangan. Beliau masih harus menggunakan selang infus dan selang pembuangan darah kotor. Hal tersebut membuat beliau harus terus berbaring setiap saat. Bahkan untuk BAK dan BAB juga harus di ranjang. Walaupun sudah dipasang perlak khusus untuk BAK, tetapi beliau bilang tidak bisa kalau harus BAK disitu, bahkan beliau sangat membatasi minum atau makan agar tidak BAB dan BAK. Beliau tidak pernah ingin merepotkan atau menjadi beban orang lain termasuk merepotkan anaknya sendiri. Dua hari setelah operasi, akhirnya beliau diizinkan untuk bergerak, duduk, berjalan, dan ke toilet. Saat itu hal pertama yang ingin dilakukan beliau adalah ke toilet, saat ditoilet beliau terlihat sangat senang dan langsung BAK. Aku sempat meneteskan air mata, karna sebegitu besar keinginan beliau untuk tidak merepotkan orang lain sampai-sampai beliau harus menahan untuk tidak BAK selama 2 hari.
Setelah kondisi mama cukup stabil, akhirnya beliau diizinkan untuk pulang, tetapi dengan catatan belum boleh terlalu banyak beraktifitas. Beliau juga masih harus memakai selang untuk pembuangan darah kotor selama 1 minggu sampai dengan waktu kontrol. Rutinitas mengelap badan beliau, membuatkan sarapan dan memasak makanan, melayani saat minum obat atau saat membutuhkan sesuatu, membersihkan luka, dan mengganti perban adalah rutinitas yang aku, ayah, dan adek lakukan setiap hari. Dan aku sangat merasakan nikmat saat dapat merawat mama dengan baik.
Dan pagi itu, saat aku dan adek sedang mengelap badan mama, terlihat butir air keluar dari mata beliau. Saat ditanya mengapa beliau menangis, beliau menjawab kalau beliau minta maaf karena sudah menjadi beban dan merepotkan keluarga. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Sungguh kasih sayang orang tua, khususnya ibu, tidak dapat terbalaskan. Bahkan saat beliau masih merasakan sakit dan masih meras kehilangan salah satu anggota tubuhnya, beliau masih memikirkan anak-anaknya, dan tidak mau merepotkan. Tidak seperti kita (anak-anaknya) saat sakit, walaupun hanya sakit demam biasa, sudah manja dan sangat merepotkan.
Ya Allah terima kasih karena Engkau telah memberikan kelancaran pada operasi mama, terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada hamba untuk dapat merawat mama, walaupun apa yang hamba lakukan hanya setetes dibandingkan dengan lautan kasih sayang beliau, semoga beliau segera pulih dan semoga beliau selalu dalam lindungan-Mu, Aamiin.
We love you Mom and Dad, love you forever...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar